Kamis, 19 November 2009

resistensi terbesar dari masuk ke dalam sebuah sistem : terjebak dgn romantisme yg disebabkan akumulasi pengalaman dan kebersamaan. hal ini menyebabkan kita jadi terlena di comfort zone dan lupa untuk mengkritisi sistem itu sendiri dengan terus membuat pembenaran2 yang gak ada habisnya

Kamis, 17 September 2009

Nation Building Corner Perpustakaan ITB





Ada sedikit kabar baik dari Perpustakaan Pusat ITB. Mulai dari Juli 2009, telah dibuka suatu corner baru. Namanya Nation Building Corner. Pojokan yang disponsori oleh Yayasan Nurani Dunia dan PLN ini seharusnya bisa memberi sedikit angin segar di antara tumpukan buku-buku teknik dan gersangnya Perpustakaan Pusat ITB.



Sesuai judulnya, tampaknya corner ini ditujukan bagi mahasiswa untuk membangun kecintaan bangsa melalui sejarah dan bacaan. Di dalamnya khusus menyediakan buku-buku Indonesia di bidang sosial, sejarah, ekonomi, serta biografi tokoh-tokoh Indonesia. Jumlah bukunya masih belum terlalu banyak, tapi tema serta kondisi fisik dari bukunya sangat bagus-bagus.
Sayangnya, buku-buku disini tidak bisa dipinjam. Dan sialnya lagi, beberapa kali saya kesana, sofa-sofa yang cukup nyaman untuk membaca buku itu justru dipakai oleh segerombolan anak TPB yang sedang belajar bersama dengan cukup ribut. Bukan masalah mereka belajarnya, tapi kan seharusnya masih banyak space lain di kampus untuk belajar bareng. Karena, tempat untuk membaca buku-buku itu kan hanya disitu. Selain itu, AC di situ beberapa kali saya datang juga tidak pernah menyala.



Harapan saya, jangan sampai buku-buku tersebut hanya sebagai pajangan dan akhirnya Nation Building Corner bernasib sama dengan corner-corner lainnya (American dan Sampoerna Corner) : dijadikan tempat orang ngobrol, mengerjakan tugas, atau tempat numpang tidur. Nampaknya, perlu diadakan publikasi yang lebih luas, pengoptimalan AC, buku yang bisa dipinjam, juga suasana yang dijaga agar tetap kondusif. Sehingga kebermanfaatan buku-buku bagus itu bisa maksimal.

Movie Review : cin(T)a




Alasan saya menonton film ini : terpikat oleh trailer nya yang beredar luas di Youtube dan penasaran dengan background ceritanya yang di Arsitektur ITB.


Reaksi saya pas sesudah menonton : film ini tidak seseru trailernya. Alurnya tidak mulus. Banyak adegan yang terkesan loncat-loncat. Selain itu, terlalu banyak adegan simbolis yang maknanya kurang bisa ditangkap oleh penontonnya dan justru membuat orang pengen nyeletuk ‘apaan sih?’. Terlebih lagi, tokoh Anisa yang menye-menye itu sungguh bikin gak sabaran.


Komentar saya beberapa bulan sesudah menonton : film ini sangat bagus. Ini film yang mendistorsi dan mencolek pikiran untuk jangka panjang. Isu tentang perbedaan agama, keberagaman, dan ateisme masih menjadi isu yang sensitif di Indonesia. Tidak terlalu banyak media yang cukup berani mengangkat isu ini ke permukaan. Dan film cin(T)a cukup berhasil mengangkat itu dengan proporsi yang pas untuk anak muda. Membuat kita tergoda untuk bertanya-tanya lagi tentang makna perbedaan agama. Selain itu, dialog-dialog di film ini sungguh brilian dan powerful untuk ukuran film Indonesia. Saya yakin, salah satu kekuatan terbesar film cin(T)a ada pada dialog antar pemainnya. Entah kenapa, menurut saya cin(T)a akan jauh lebih mempesona jika hadir dalam format novel. Di luar segala kekurangan teknisnya, film ini adalah awalan dan pancingan yang pas untuk memulai diskusi yang lebih dalam lagi mengenai filosofi agama.

Rabu, 16 September 2009

Book Review : Kebebasan




Tiap orang pasti punya pandangan sendiri mengenai arti kebebasan. Hal ini terkait dengan profesi dan pengalaman hidup masing-masing individu. Buku tipis yang dibuat oleh Ingrid Widjanarko ini berusaha merangkum berbagai definisi tentang kebebasan dari sekitar empat puluh tokoh-tokoh di Indonesia. Keberagaman profesi dari tokoh-tokoh tersebut (politisi, aktivis, mentri, aktor, seniman, psikolog, musisi, dll) membuat hal yang unik sendiri mengenai keberagaman sudut pandang yang dihasilkan. Simpel, tapi cukup menginspirasi.

“Kebebasan adalah, kesadaran akan keterbatasan.” – Butet Kartaredjasa

“Kebebasan adalah, tidur di pagi hari tanpa alarm yang bernyanyi mengingatkan 17 janji pertemuan hari itu. Nyetir tanpa diserobot begundal berdasi yang nyupir seperti metromini. Menikmati hujan di Jakarta tanpa takut akan banjir. Bicara apa saja tentang politik sambil membayangkan gimana kalau orang bicara seperti itu tentang atau kepada kita juga.” – Effendi Gazali

“Kebebasan adalah, keterbatasan, karena kita tidak hidup dalam ruang hampa. Ketika Tuhan memberikan kemerdekaan, Tuhan menyiapkan perangkat aturan, sehingga saat yang sama Tuhan menyiapkan surga dan neraka.” – Khofifah Indar Parawangsa

“Kebebasan adalah, hak untuk berkata tidak terhadap otoritas apapun, dan peluang untuk berbuat salah lalu belajar dari kesalahan tersebut.” – M. Fadjroel Rachman

“Kebebasan adalah, bukan keadaan tanpa ikatan atau kekangan. Justru kesadaran yang sesungguhnya atas ikatan dan kekangan yang berasal dari kelemahan, kekurangan, dan ketaksempurnaan diri kita dan situasi sekeliling kita. Dengan kesadaran itu kita bisa berbuat sesuatu yang membahagiakan kita dan orang lain.” – Hanung Bramantyo

“Kebebasan juga bisa berarti ketidakbebasan. Yang membikin kebebasan memiliki makna adalah artistika, estetika, dan etika. Tanpa ketiganya itu, kebebasan akan berubah menjadi monster dengan berjuta wajah, jadi horor bagi jiwa-jiwa yang sebenarnya berhak pula memaknai kebebasan.” – Ratna Riantiarno

“Kebebasan tidak pernah ada. Karena ketika mendapatkan satu kebebasan, pasti akan menghadapi pula ketidakbebasan yang lainnya. Kebebasan hanya ada ketika, mati.” – Hariman Siregar

Lalu, bagaimana arti kebebasan menurut Anda?
*thanks buat Agni buat pinjeman bukunya

Sabtu, 05 September 2009

Adiksi

jauh lebih rajin saya buka facebook dibanding baca kitab suci
jauh lebih sering saya hahahihi dengan teman yang puluhan kilometer dibanding mengakrabkan diri dengan teman-teman di depan mata
jauh lebih intens saya mengecek status updates orang-orang dibanding mengecek perkembangan berita terkini
jauh lebih gandrung saya main games di facebook dibanding membaca ensiklopedi online
jauh lebih asik melihat profil-profil orang dibanding belajar biografi tokoh-tokoh terkenal
jauh lebih seru ikut kuis facebook ini itu dibanding belajar sejarah bangsa sendiri
jauh lebih sering saya jadi konsumen pasif di dunia maya dibanding berkarya lewat dunia nyata

dan sudah terlalu sering saya berkata pada diri saya 'jatahi penggunaan internet, lakukan hal-hal lain yang lebih berguna' ketimbang melaksanaannya


ini perdebatan lama tentang internet yang telah merevolusi hidup kita. ternyata, setelah sepuluh tahun mejadi pengguna rutin internet, saya masih belum matang juga. kalau hitung-hitungan waktu serta produktivitas penggunaan, ternyata output yang dihasilkan masih kalah sama waktu yang dikeluarkan. mengutip pernyataan seorang teman : kalau jaman dulu udah ada internet, mungkin indonesia ga akan merdeka. soekarno dan teman-temannya barang kali terlena dan sedang asik main fb, twitter, atau kaskus.

Tips Menjadi Mahasiswa Baru

Saya sama sekali belum menjadi mahasiswa berprestasi, tapi setaun kuliah setidaknya memberi saya satu hal : pengalaman. Lewat berbagai macam trial and error, akhirnya ada beberapa formula yang menurut saya cukup ideal. Tiap orang bisa punya cara masing-masing tergantung dengan kondisi kuliahnya, tapi ini beberapa tips dari saya.

· Definsikan ulang cita-cita. Taun pertama kuliah ibarat titik yang menentukan. Kalau kemarin, orientasi waktu SMA kebanyakan ‘ingin kuliah jurusan X di universitas Y’. Ketika sekarang udah dapet, balik lagi, setelah ini mau jadi apa? Ke depannya mau ngapain? Fase mendefinisikan ulang cita-cita (bukan cita-cita mau jadi insinyur, tapi dengan gelar insinyur mau ngapain) ‘mikir-mikir panjang’ ke depan mau ngapain menurut saya penting banget. Karena, kalau udah dapet gambaran besar tujuan kuliah, dari sini kita bisa men-sortir kegiatan-kegiatan yang mau diambil dan menentukan prioritas.

· Tentukan target IP sesuai cita-cita. Ketika pengen kerja di perusahaan multinasional yang bergaji besar atau berharap dapet basiswa S2 untuk jadi peneliti, IP tinggi adalah harga mati. Tapi ketika niat awal adalah ingin jadi politisi dan menganggap kampus adalah tempat untuk memperluas jaringan, IP mungkin perlu secukupnya asal lulus. Jadi ketika ada orang yang bilang ‘IP itu gak penting, yang penting organisasi’. Indikator penting gak penting nya ya tergantung cita-cita ke depan.

· Iseng-iseng ikut berbagai seminar di kampus. Lumayan loh, kadang jadi kepikiran tentang apa, atau dapet ide tentang apa. Yang jelas ini nambah wawasan dan referensi. Apalagi, seminar di kampus biasanya harganya juga murah, udah dapet makan siang, sertifikat, plus seminar kit. Jadi bener-bener ga ada ruginya kok.

· Jangan anggep tugas-tugas karya tulis sebagai beban. Tapi anggap sebagai kesempatan untuk belajar secara mendalam mengenai hal-hal lain.

· Eksplorasi terus cara belajar yang paling ideal. Tiap orang cara belajarnya beda-beda. Ada yang nyaman belajar sendiri, ada yang mesti belajar kelompok (cari terus juga teman-teman belajar yang paling enak). Saya sendiri masih problem banget dengan hal ini. Tapi apapun cara belajarnya, satu hal yang pasti : merhatiin dosen dan serap sebanyak mungkin di kelas. Karena materi kuliah lebih advance dan mendalam, hampir gak ada mahasiswa yang punya pemahaman utuh tentang satu materi. Cara ngerti orang pun beda-beda. Jadi, pastikan dapet materi sebanyak mungkin dari dosen.

· Taun pertama jangan terlalu gegabah. Mikir-mikir ketika mau ikut kegiatan. Walaupun banyak banget hal baru yang terlihat menarik, jangan karena serba baru semuanya dicoba. Ukur kapasitas dulu, terutama masalah waktu belajar. Ini balik lagi ke prioritas, kira-kira pengen lulus dengan kayak apa? Apakah ‘IP berapa aja asal lulus yang penting gue jadi aktivis’ atau ‘yang penting IP tinggi biar dapet kerja di perusahaan besar’ atau yang di tengah-tengah? Ketika sebulan kemarin, fase menggila ketika deadline tugas-tugas besar bersatu dengan UAS, wahh, baru belajar banget deh yang namanya ngatur waktu. Ternyata bener-bener gak segampang teorinya!

· Selain itu, ada juga satu sindrom yang saya amati ke temen-temen SMA saya yang mungkin udah jenuh dan puas dengan segala aktivitas waktu SMA : jadi males ikut apa-apa (dan sebaliknya lagi, dari pengamatan saya, biasanya orang yang ga aktif-aktif banget waktu SMA justru jadi berambisi mengeksiskan diri ikut macem-macem). Manusiawi banget sih, kayak udah bosen dan capek. Tapi kalo menurut saya, ikut minimal satu kegiatan di luar belajar tetep perlu. Lupakan alasan ‘menambah soft skill, melatih berorganisasi dan bla bla bla’ (karna, teamwork juga bisa dibina melalui tugas kelompok akademis kok). Satu hal yang pasti : kegiatan non akademis perlu untuk pelarian dan selingan ketika jenuh belajar. Jenuh saat belajar ini bahaya loh, bisa-bisa otaknya gak bisa diajak kompromi lagi dan akhirnya malah gak produktif. Makanya, pilih kegiatan yang sesuai passion biar kita juga fun ngejalaninnya. Anggep aja sebagai refreshing.

· Ini tips kesehatan yang saya dapet dari seorang temen : jangan dibiasain bergadang. Bergadang sekali-sekali pasti gak bisa dihindarin (ketika tugas menumpuk, mau UAS, dll) tapi sebisa mungkin jangan dibiasain karena gak bagus untuk jangka panjang. Caranya gimana? Ya waktu di siang harinya yang dipadetin. Kurangi waktumain facebook, makan dengan lebih cepat, jalan dengan lebih cepat, serta kurangi waktu ngobrol-ngobrol yang kurang perlu. Mendisiplinkan diri sendiri, ternyata juga bukan perkara mudah.

· Jangan cepat down. Terkadang, masalah yang dateng ketika kuliah itu bisa sangat ekstrim dan gak terbayangkan sebelumnya. Sesulit apapun itu, sebisa mungkin tetap positive thinking. Pkir aja bahwa kesulitan-kesulitan itu bagian dari kita yang terus berkembang seiring waktu. Kalau dapet yang seneng-seneng terus ya gak bakal maju dan ga bakal belajar dari situ. Kalau pelajarannya gak terasa susah ya buat apa toh kita mahal-mahal kuliah?

· Work hard play hard. Karena emang pressure belajarnya lebih berat dibanding SMA, ketika ada waktunya untuk senang-senang ya dimanfaatkan untuk main. Tapi, masa sih udah kuliah senang-senangnya masih nongkrong-nongkrong di mal juga? Kayaknya banyak deh hal yang fun lain yang lebih produktif misalnya olahraga, jalan-jalan ke berbagai tempat unik, berpetualang ke alam, ato ikutan gabung ke berbagai komunitas di luar kampus.

· Oya, satu lagi yang penting, biasakan olahraga. Walau terkadang bikin males dan merasa gak ada waktu, olahraga yang rutin penting banget untuk meningkatkan stamina. Biasanya nih, indikasi kalau udah lama gak olahraga itu jadi cepet ngantuk dan badan cepet capek. Jadi segimanapun juga, mesti dipaksain. Biar gak males, coba janjian olahraga bareng temen-temen atau gabung di unit olahraga sekalian.

Intinya, jangan takut untuk mencoba hal baru. Kenal-kenal sama orang baru. Banyak yang bisa kita pelajari. Namun, semua balik lagi ke tujuan awalnya. Dan yang terpenting, nikmati semua perjalanannya!

Senin, 31 Agustus 2009

Mari Kembali ke Blog!

Keasyikan ber-microblogging telah menyedot produktivitas saya untuk bener-bener nulis blog nih. Padahal banyak banget topik yang udah kepikiran untuk segera ditulis, namun tertunda oleh sejuta alasan yang dibuat-buat sendiri.

Yang saya sadari, microblogging adalah alat efektif penghilang kebosanan yang adiktif. Gak ada yang salah dengan itu, tapi cepatnya respon yang kita dapat atas satu kalimat trivial yang kita tulis (entah sekedar status updates atau curcol kecil2an) menyebabkan kita puas dan kurang ingin bersusah payah melakukan effort lebih membuat tulisan yang lebih panjang. Secara gak langsung, motivasi mendapat apresiasi dari berkarya pun lantas jadi cepat terpenuhi dan menghambat kita untuk terdorong ke level selanjutnya. Hmm, mungkin saya mikirnya agak terlalu berlebihan, tapi setidaknya itu hal yang saya alami sendiri.

Di luar itu, beberapa bulan terakhir terlalu banyak hal baru nan menarik yang terjadi. Mulai dari segala kegiatan baru di kampus dan luar kampus, masuk jurusan dengan segala keilmuan sipil yang bener-bener nyata, sampai inspirasi-inspirasi yang muncul dari berbagai informasi yang saya cerna. Butuh waktu untuk memilah-milah itu semua. mengingat-ingat lagi, mengklasifikasi, untuk dipackage sedemekian rupa dan di share ke orang-orang.

Kalau kata orang, bulan puasa adalah bulan kontemplasi. semoga, di bulan puasa ini, kegiatan tulis menulis yang sempet vakum cukup lama, bisa berjalan lancar lagi.

  © Blogger template 'Isolation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP